// pustaka keputusan

92 framework. Satu pustaka berbukti.

92 framework marketing dengan sumber, langkah penerapan, dan contoh bisnis. Mulai dari masalah Anda, lalu pilih framework yang cocok.

Framework adalah urutan langkah yang sudah terbukti untuk satu pekerjaan marketing.

MULAI DARI MASALAH
Iklan tidak dilirik→ Pattern Interrupt
Klik tanpa penjualan→ AIDA
Pesan sulit dipahami→ Rule of One
Nilai sulit terlihat→ Value Proposition Canvas

// kategori

Framework Dasar

50 framework
3-Act Story

Struktur naratif tiga babak: Setup untuk mengenalkan tokoh dan status quo, Confrontation untuk menaikkan konflik dan taruhan, lalu Resolution untuk klimaks dan transformasi. Polanya membuat pesan brand lebih diingat karena mengikuti cara otak manusia menyimpan dan menceritakan ulang sebuah kisah.

Buku "Screenplay: The Foundations of Screenwriting" (Syd Field, 1979)
3C

Framework 3C menilai strategi dari tiga sudut yang saling terkait: Company (kekuatan dan positioning kita), Customer (kebutuhan serta segmen yang disasar), dan Competitor (posisi pesaing). Strategi yang menang lahir di titik pertemuan kekuatan Company dengan kebutuhan Customer yang belum digarap tuntas oleh Competitor.

Kenichi Ohmae, buku "The Mind of the Strategist: The Art of Japanese Business" (McGraw-Hill, 1982)
4C

4C mengganti sudut pandang 4P dari 'apa yang bisa kita jual' menjadi sudut pandang pelanggan: Product jadi Customer (kebutuhan riil), Price jadi Cost (total biaya yang ditanggung pembeli), Place jadi Convenience (kemudahan membeli), dan Promotion jadi Communication (dialog dua arah, bukan cuma promosi searah).

Artikel "New Marketing Litany: Four P's Passé; C-Words Take Over" (Robert F. Lauterborn, Advertising Age, 1990)
4P Storytelling

Framework storytelling yang menyusun narasi brand dalam empat babak: People (perkenalkan karakter atau pelanggan yang relatable), Purpose (motivasi dan keinginannya), Problem (hambatan yang dihadapi), lalu Payoff (transformasi setelah memakai solusi). Tujuannya membuat pesan terasa personal dan mudah diingat, bukan sekadar mengumbar fitur.

HubSpot — The Ultimate Guide to Brand Storytelling
4U

Checklist empat kriteria untuk menguji kekuatan headline, subject line, dan bullet: Useful, Urgent, Unique, dan Ultra-specific. Fungsinya menilai dan merevisi draf yang sudah ada, bukan jadi template menulis dari nol.

AWAI (American Writers & Artists Institute), artikel "A Review of the 4 U's"
5-Second Rule

Audiens memutuskan lanjut atau pergi dalam sekitar 5 detik pertama, jadi visual, headline, dan janji value harus langsung terbaca dan relevan sebelum mereka scroll. Awalnya metode uji cepat first-impression di UX, sekarang jadi standar untuk merancang hook iklan dan hero halaman.

Paul Doncaster, 'The UX Five-Second Rules: Guidelines for User Experience Design's Simplest Testing Technique' (Morgan Kaufmann, 2014); berakar dari artikel UIE 'Five-Second Tests: Measuring Your Site's Content Pages' (Christine Perfetti, 2007).
AIDA

AIDA memetakan perjalanan calon pembeli lewat empat tahap berurutan: Attention, Interest, Desire, Action. Tujuannya membuat pesan iklan menuntun orang dari sekadar sadar sampai akhirnya bertindak, entah beli, daftar, atau hubungi.

Wikipedia — AIDA (marketing)
Anchoring Effect

Anchoring effect adalah kecenderungan otak menjadikan angka atau informasi pertama yang dilihat sebagai titik acuan yang membentuk semua penilaian berikutnya. Dalam marketing, harga atau nilai pembanding yang muncul lebih dulu membuat penawaran utamamu terasa lebih murah dan lebih masuk akal.

Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases (Science, 1974)
Anti-Positioning

Anti-positioning menaruh brand di benak konsumen dengan mendefinisikan diri sebagai lawan atau kebalikan pemimpin pasar. Kamu tidak melawan fitur produk pesaing, tapi menumpang kategori yang sudah ada di kepala orang lalu membaliknya, seperti 7-Up jadi 'Uncola' dan Avis mengaku 'nomor dua yang lebih berusaha'.

Buku 'Positioning: The Battle for Your Mind' (Al Ries & Jack Trout, 1981), khususnya strategi 'the against position' dengan contoh 7-Up 'The Uncola' dan Avis 'We're only No. 2'.
BAB

BAB menata pesan dalam tiga langkah: gambarkan Before (kondisi bermasalah pembaca sekarang), lukiskan After (hidup setelah masalah itu hilang), lalu tunjukkan Bridge (produk atau jasa Anda sebagai jembatan dari Before ke After).

Buffer: panduan formula copywriting yang memuat Before-After-Bridge
Because Justification

Orang jauh lebih mudah menuruti permintaan bila diberi alasan yang diawali kata 'karena', bahkan saat alasannya tipis. Di studi asli, menambahkan 'karena saya harus fotokopi' menaikkan kepatuhan menyerobot antrean dari 60% ke 93%.

Langer, E. J., Blank, A., & Chanowitz, B. (1978). "The Mindlessness of Ostensibly Thoughtful Action: The Role of 'Placebic' Information in Interpersonal Interaction." Journal of Personality and Social Psychology, 36(6), 635-642.
Ben Franklin Close

Ben Franklin Close memandu prospek membuat daftar dua kolom, alasan untuk membeli (pro) versus alasan menunda (kontra), lalu membantu menuntaskan sisi kontra sampai keputusan terasa rasional dan diambil sendiri, bukan dipaksa.

Surat Benjamin Franklin kepada Joseph Priestley, 19 September 1772 (Founders Online, U.S. National Archives)
Big 3 Objections Handler

Framework sales yang mengantisipasi tiga keberatan terbesar calon pembeli (harga, waktu, hasil) lalu menjawabnya lebih dulu sebelum diucapkan, sehingga gesekan menjelang closing berkurang. Paling efektif untuk penawaran high-ticket seperti konsultasi dan jasa premium.

Zig Ziglar, 'Secrets of Closing the Sale' (Fleming H. Revell, 1984)
Commitment-Consistency Funnel

Funnel yang membangun konversi bertahap: minta komitmen kecil dulu, lalu manfaatkan dorongan psikologis untuk tetap konsisten dengan komitmen itu agar prospek mau mengambil langkah yang makin besar sampai membeli.

Influence: The Psychology of Persuasion — Robert B. Cialdini
Consistency Principle

Orang cenderung bertindak konsisten dengan komitmen yang sudah mereka buat, terutama komitmen yang aktif, publik, dan sukarela. Dalam marketing, ambil dulu komitmen kecil (micro-yes) supaya calon pelanggan terdorong konsisten sampai keputusan besar seperti pembelian.

Buku 'Influence: The Psychology of Persuasion' oleh Robert B. Cialdini, bab Commitment and Consistency
Contrast Principle

Dua hal yang disajikan berurutan tampak lebih berbeda dari kenyataannya. Dengan menampilkan opsi yang lebih mahal atau lebih besar lebih dulu, opsi utama yang kamu jual terasa lebih murah dan lebih masuk akal.

Influence: The Psychology of Persuasion — Robert B. Cialdini, Bab 1 "Weapons of Influence"
Curiosity Gap

Curiosity gap memancing rasa ingin tahu dengan menunjukkan adanya jarak antara yang sudah diketahui orang dan yang ingin mereka ketahui: beri cukup info untuk menarik minat, tahan satu bagian yang bikin penasaran, lalu tuntaskan dengan value nyata. Kuncinya jujur, gap wajib benar-benar ditutup, bukan clickbait yang di ujungnya mengecewakan.

George Loewenstein, "The Psychology of Curiosity: A Review and Reinterpretation", Psychological Bulletin (1994)
Empathy-Authority-Solution

Framework pesan yang memenangkan kepercayaan sebelum menjual: tunjukkan empati bahwa kamu paham masalah pelanggan, buktikan otoritas bahwa kamu memang bisa membantu, lalu tawarkan solusimu sebagai jalan keluar yang jelas. Merek berperan sebagai pemandu, bukan pahlawan.

Building a StoryBrand: Clarify Your Message So Customers Will Listen — Donald Miller
Endowment Effect

Endowment effect adalah kecenderungan orang menilai sesuatu lebih tinggi begitu merasa memilikinya, sehingga enggan melepaskannya. Dalam marketing, ini artinya bikin calon pembeli merasa 'sudah punya' dulu, entah lewat trial, personalisasi, atau kepemilikan simbolis, supaya melepaskannya terasa seperti kehilangan.

Artikel "Toward a Positive Theory of Consumer Choice" (Richard Thaler, Journal of Economic Behavior & Organization, 1980)
FAB

FAB mengubah cara bicara produk dari sekadar menyebut fitur (Features), menjadi menjelaskan keunggulannya (Advantages), lalu manfaat konkret yang dirasakan pelanggan (Benefits). Intinya orang tidak beli fitur, mereka beli hasil yang fitur itu berikan.

Xerox Professional Selling Skills (PSS) — Xerox Learning Systems, didokumentasikan dalam sejarah metodologi sales
Feel-Felt-Found

Feel-Felt-Found adalah pola menangani keberatan lewat empati tiga langkah: akui dulu perasaan calon pembeli (Feel), tunjukkan orang lain pernah merasa sama (Felt), lalu ceritakan apa yang akhirnya mereka temukan setelah tetap mencoba (Found). Intinya menurunkan resistensi tanpa berdebat, lalu me-reframe keberatan jadi alasan untuk maju.

Selling and Persuasion Techniques — The Feel, Felt, Found Objection Handling Technique
Framing Effect

Cara sebuah informasi disajikan mengubah keputusan orang, walau faktanya identik. Menyebut 'hemat Rp 2 juta' berbeda efeknya dari 'jangan bayar lebih Rp 2 juta', dan 'Rp 9.900/hari' terasa jauh lebih ringan dari 'Rp 297.000/bulan' meski jumlahnya sama.

Tversky, A. & Kahneman, D. (1981). 'The Framing of Decisions and the Psychology of Choice', Science, Vol. 211, No. 4481 (contoh kanonik: Asian disease problem dan frame 'untung' vs 'rugi').
Future Pacing

Future Pacing membimbing calon pembeli membayangkan dirinya sudah memakai solusimu dan menikmati hasilnya secara detail dan inderawi. Karena otak sulit membedakan pengalaman nyata dari yang divisualisasikan dengan jelas, keputusan membeli terasa seperti sekadar melanjutkan masa depan yang sudah ia lihat sendiri.

Wikipedia — Neuro-linguistic programming
Golden Circle

Golden Circle menyusun komunikasi dari dalam ke luar: Why (kepercayaan/tujuan), How (cara unik mewujudkannya), lalu What (produk/layanan konkret). Intinya, orang tidak membeli apa yang kamu buat, tapi alasan kenapa kamu membuatnya, sehingga pesan sebaiknya dibuka dari Why bukan dari daftar fitur.

Simon Sinek — Start With Why (situs resmi)
Hero's Journey

Hero's Journey memetakan kisah perubahan seorang tokoh dari dunia biasa, menerima panggilan, dibimbing mentor, melewati ujian, sampai pulang dengan hasil yang mengubah dirinya. Dalam marketing, pelanggan yang ditempatkan sebagai pahlawan dan brand berperan sebagai mentor yang membekali mereka, bukan mengambil alih panggung.

Buku "The Hero with a Thousand Faces" (Joseph Campbell, 1949)
Jobs To Be Done

JTBD memandang pelanggan tidak membeli produk, melainkan 'menyewa' produk untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan (job) dalam hidup mereka. Fokusnya bergeser dari fitur dan demografi ke progres yang ingin dicapai pelanggan pada situasi tertentu, lengkap dengan dimensi fungsional, emosional, dan sosialnya.

Harvard Business Review — Know Your Customers' 'Jobs to Be Done'
Know-Like-Trust

Know-Like-Trust menyatakan orang cenderung membeli dari dan mereferensikan bisnis ke pihak yang mereka kenal, sukai, dan percayai. Framework ini menata urutan membangun hubungan: bikin orang kenal dulu, lalu suka, baru cukup percaya untuk beli.

Bob Burg — Endless Referrals: Network Your Everyday Contacts into Sales (1994)
Loss Aversion Hook

Loss Aversion Hook adalah teknik membuka pesan dengan menonjolkan apa yang bisa hilang atau terlewat, bukan apa yang bisa didapat, karena secara psikologis rasa kehilangan terasa sekitar dua kali lebih kuat daripada keuntungan setara. Tujuannya membuat audiens berhenti dan bertindak untuk menghindari kerugian, bukan sekadar mengejar manfaat.

Makalah "Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk" (Daniel Kahneman & Amos Tversky, Econometrica, 1979)
Micro-Yes Sequence

Rangkaian pertanyaan atau ajakan kecil yang gampang dijawab 'ya' untuk membangun momentum kesepakatan, sehingga saat tiba di ajakan besar (beli, booking, teken kontrak) prospek sudah terbiasa mengiyakan.

Copyhackers — Joanna Wiebe (konsep 'micro-yes' dalam copy konversi)
Objection-Reframe-Resolve

Framework objection-handling tiga langkah: Objection (dengarkan dan akui keberatan tanpa langsung membantah), Reframe (geser cara pandang keberatan itu ke sudut yang menguntungkan), lalu Resolve (tutup dengan solusi konkret plus bukti dan risk-reversal). Paling efektif untuk penawaran premium atau kompleks yang gesekan closing-nya tinggi.

Jeb Blount, 'Objections: The Ultimate Guide for Mastering the Art and Science of Getting Past No' (Wiley, 2018)
One Big Thing

One Big Thing memaksa setiap materi marketing berpusat pada satu value proposition dominan, bukan menumpuk banyak fitur sampai pesannya kabur. Kamu memilih satu ide besar yang paling penting bagi calon pembeli, lalu membuat headline, kreatif, dan penawaran semuanya menopang ide itu.

Buku 'Good to Great' (Jim Collins, 2001) — 'The Hedgehog Concept', turunan dari esai Isaiah Berlin 'The Hedgehog and the Fox' (1953).
Pain vs Pleasure

Pain vs Pleasure memetakan dua motor keputusan manusia: menjauh dari rasa sakit (masalah, kerugian, rasa takut) dan mendekat ke kenikmatan (aspirasi, status, kelegaan). Tugas pemasar adalah memilih tuas mana yang ditarik lebih dulu, karena untuk aksi cepat rasa sakit dan takut rugi biasanya lebih kuat, sementara kenikmatan membangun keinginan jangka panjang.

Jeremy Bentham — An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789)
PAS

PAS menyusun pesan dalam tiga langkah: Problem (sebut masalah yang dirasakan calon pembeli), Agitate (korek dan perbesar rasa sakit masalah itu sampai terasa mendesak), lalu Solution (tawarkan produk atau jasa Anda sebagai jalan keluar). Kekuatannya bertumpu pada kenyataan bahwa orang lebih cepat bertindak untuk menghindari sakit ketimbang mengejar untung.

Copyhackers — Copywriting Formulas (panduan yang memuat Problem-Agitate-Solution)
PASTOR

PASTOR adalah kerangka sales copy panjang yang menuntun calon pembeli lewat enam tahap berurutan: Problem, Amplify, Story, Transform, Offer, Response. Dibuat untuk penawaran high-ticket, di mana keputusan butuh dibangun secara emosional dari rasa sakit menuju solusi, bukan sekadar diskon cepat.

Ray Edwards, 'How to Write Copy That Sells' (buku) dan materi resmi P.A.S.T.O.R. Framework di situsnya
Pattern Interrupt

Pattern interrupt mematahkan pola otomatis yang sedang dijalankan audiens (scroll autopilot, banner blindness, ekspektasi format iklan) dengan sesuatu yang tak terduga, sehingga perhatian berhenti dan pikiran terbuka menerima pesan. Di iklan, taruhannya ada di frame atau baris pertama: kalau tidak memutus pola, sisanya tidak dibaca.

Richard Bandler & John Grinder, 'Patterns of the Hypnotic Techniques of Milton H. Erickson, M.D., Volume 1' (Meta Publications, 1975)
Peak-End Rule

Peak-end rule menjelaskan bahwa orang menilai sebuah pengalaman hampir seluruhnya dari momen puncaknya (titik emosi paling intens) dan dari bagaimana pengalaman itu berakhir, bukan dari rata-rata tiap detiknya. Dalam marketing, kesan terhadap brand ditentukan oleh momen puncak dan sentuhan terakhir di perjalanan pelanggan, bukan durasi total interaksi.

"When More Pain Is Preferred to Less: Adding a Better End" — Kahneman, Fredrickson, Schreiber & Redelmeier (Psychological Science, 1993); dibahas ulang untuk publik luas di buku Thinking, Fast and Slow (2011).
Power of Free

Power of Free memanfaatkan temuan bahwa kata 'gratis' memicu tindakan jauh lebih agresif daripada sekadar harga murah, bukan proporsional dengan penurunan harganya. Dalam marketing kamu memberi sesuatu yang benar-benar bernilai secara cuma-cuma (lead magnet, audit, konsultasi) untuk membangun trust dan rasa timbal balik, lalu mengonversi database itu jadi penjualan.

Zero as a Special Price: The True Value of Free Products (Marketing Science, Vol. 26 No. 6, 2007, hal. 742-757)
Pre-Suasion

Pre-Suasion adalah seni mengarahkan perhatian audiens sebelum pesan utama disampaikan, sehingga momen sebelum pitch (framing, konteks, dan pertanyaan pembuka) menentukan seberapa reseptif mereka. Intinya bukan mengubah isi tawaran, tapi menyiapkan pikiran agar tawaran yang sama terasa lebih relevan dan meyakinkan.

Buku "Pre-Suasion: A Revolutionary Way to Influence and Persuade" (Robert Cialdini, Simon & Schuster, 2016)
QUEST

QUEST menyusun sales copy dalam lima tahap berurutan: Qualify (saring pembaca yang tepat), Understand (tunjukkan kamu paham masalahnya), Educate (jelaskan solusinya), Stimulate (bangkitkan keinginan lewat nilai dan bukti), lalu Transition (ubah pembaca jadi pembeli lewat CTA). Bedanya dari AIDA, QUEST justru mulai dengan menyaring audiens dulu, bukan langsung merebut perhatian semua orang.

Penjelasan formula QUEST
Reciprocity Loop

Ketika seseorang menerima sesuatu yang bernilai lebih dulu, ia merasa terdorong membalas. Reciprocity Loop memakai ini secara berulang: beri value nyata dulu (Give), dapatkan trust dan engagement (Receive), lalu naikkan value dan ask secara bertahap (Loop) sampai jadi pembeli.

Buku 'Influence: The Psychology of Persuasion' oleh Robert B. Cialdini, bab Reciprocation
Risk Reversal

Risk Reversal memindahkan risiko transaksi dari pembeli ke penjual lewat garansi, trial, atau refund, sehingga alasan 'takut rugi' hilang dan calon pembeli lebih berani ambil keputusan. Paling ampuh di titik keputusan seperti checkout, CTA utama, dan penawaran premium atau high-ticket.

Jay Abraham, 'Getting Everything You Can Out of All You've Got' (St. Martin's Press, 2000)
Rule of One

Rule of One memaksa satu aset komunikasi hanya membidik satu pembaca, mengangkat satu pesan/ide utama, satu tawaran, dan satu CTA. Fokus tunggal ini mengurangi kebingungan dan umumnya menaikkan conversion dibanding pesan yang menumpuk banyak benefit sekaligus.

Copyhackers (Joanna Wiebe) — Double Your Freelancing Podcast Ep. 63, 'The Rule of One'
Scarcity-Urgency Duo

Scarcity + Urgency Duo memasangkan kelangkaan (jumlah terbatas: sisa stok, kuota, edisi) dengan urgensi (waktu terbatas: deadline, countdown) agar audiens bertindak sekarang, bukan nanti. Kelangkaan memberi alasan 'kenapa berharga', urgensi memberi alasan 'kenapa sekarang', dan keduanya hanya bekerja jika benar-benar nyata.

Robert B. Cialdini, "Influence: The Psychology of Persuasion" (1984), bab Scarcity
SLAP

SLAP menyusun iklan atau landing page respons langsung dalam empat langkah: Stop (hentikan scroll), Look (buat mereka membaca value dan benefit), Act (satu ajakan bertindak yang jelas), lalu Purchase (hilangkan friksi dan keraguan lewat garansi atau risk reversal sampai transaksi terjadi). Paling pas untuk produk murah atau impulsif yang keputusannya cepat.

Copy Hackers — Copywriting Formulas (panduan formula copywriting, Joanna Wiebe)
So-What Test

So-What Test memaksa setiap klaim, fitur, atau spesifikasi dijawab dengan pertanyaan 'lalu apa untungnya buat saya?' berulang kali sampai berhenti di manfaat konkret yang relevan buat audiens. Ini alat uji dan revisi untuk membedah copy yang mentok di fitur, bukan template menulis dari nol.

Barbara Minto — The Minto Pyramid Principle (situs resmi)
Social Proof + Scarcity

Framework ini menumpuk dua pemicu keputusan: social proof (orang mengikuti apa yang dilakukan dan dipercaya banyak orang lain, terutama saat ragu) dan scarcity (nilai sesuatu naik saat jumlah atau waktunya terasa terbatas). Digabung, bukti sosial memberi rasa aman untuk membeli, sementara kelangkaan memberi alasan untuk membeli sekarang, bukan nanti.

Robert B. Cialdini, "Influence: The Psychology of Persuasion" (1984)
STAR

STAR menyusun sebuah kisah dalam empat bagian: Situation (kondisi awal), Task (target yang harus dicapai), Action (yang benar-benar dikerjakan), dan Result (hasil terukur). Aslinya teknik wawancara perilaku, di marketing ia dipakai untuk mengubah testimoni dan studi kasus jadi bukti konkret berangka, bukan pujian umum.

DDI (Development Dimensions International) — STAR Method for Interviewing and Feedback
Storyselling

Storyselling adalah teknik menjual dengan membungkus penawaran dalam cerita nyata: perkenalkan tokoh dan masalahnya (Story), bangun koneksi lewat emosi dan taruhan yang relatable (Emotion), lalu tutup dengan resolusi berupa hasil konkret dan ajakan bertindak (Resolution). Alih-alih mengurai fitur, ia memakai kisah pelanggan agar audiens berpikir 'ini cerita saya' sehingga keputusan beli terasa muncul dari dalam diri mereka sendiri.

Buku "StorySelling for Financial Advisors: How Top Producers Sell" (Scott West & Mitch Anthony, 2000)
Tribe Positioning

Tribe Positioning memenangkan benak lewat rasa memiliki, bukan sekadar fitur. Brand memposisikan diri sebagai pemimpin sebuah 'tribe', yaitu kelompok dengan identitas dan nilai yang sama, lalu menaikkan loyalitas dengan tiga lapis: Identity ('ini untuk orang seperti saya'), Belonging (rasa jadi bagian komunitas), dan Exclusivity (akses terbatas yang bikin anggota merasa terpilih).

Buku 'Tribes: We Need You to Lead Us' (Seth Godin, 2008, Portfolio/Penguin), sumber utama gagasan membangun dan memimpin tribe di sekitar sebuah ide.
Value Ladder

Value Ladder adalah rangkaian penawaran yang menaik nilai dan harganya, dari umpan gratis atau murah (lead magnet, lalu tripwire), naik ke core offer, sampai upsell high-ticket dan continuity. Tujuannya menaikkan customer lifetime value dengan 'menaikkan' pelanggan tangga demi tangga, bukan mengandalkan satu transaksi sekali jalan.

Russell Brunson, 'DotCom Secrets: The Underground Playbook for Growing Your Company Online' (2015)

// kategori

Strategy & Positioning

9 framework
4PBeginner

Empat tuas dasar yang menentukan produkmu laku atau tidak: apa yang dijual, berapa harganya, di mana dibeli, dan bagaimana orang tahu.

E. Jerome McCarthy, buku "Basic Marketing: A Managerial Approach" (Richard D. Irwin, 1960)
7PIntermediate

Tujuh tuas yang menata seluruh pengalaman jasa, dari produk sampai bukti fisik yang dirasakan pelanggan.

Booms, B.H. & Bitner, M.J. (1981), "Marketing Strategies and Organization Structures for Service Firms", dalam Marketing of Services, American Marketing Association, Chicago, hlm. 47-51
Ansoff MatrixIntermediate

Empat jalur pertumbuhan dari kombinasi produk dan pasar, diurut dari risiko paling rendah ke paling tinggi.

Igor Ansoff, artikel "Strategies for Diversification", Harvard Business Review, September–Oktober 1957, Vol. 35 No. 5, hlm. 113–124
BCG MatrixIntermediate

Petakan setiap produk berdasarkan pertumbuhan pasar dan pangsa pasar, lalu putuskan mana yang dipupuk, diperah, dipertaruhkan, atau dilepas.

Boston Consulting Group — The Growth Share Matrix (situs resmi BCG)
Blue Ocean StrategyAdvanced

Berhenti berdarah-darah di pasar penuh pesaing, ciptakan ruang pasar baru yang belum digarap siapa pun.

Buku 'Blue Ocean Strategy' (W. Chan Kim & Renée Mauborgne, Harvard Business Review Press, 2005) dan Blue Ocean Strategy Institute (situs resmi penulis).
Porter's Five ForcesAdvanced

Peta lima kekuatan kompetitif yang menentukan seberapa menarik dan menguntungkan sebuah industri.

Harvard Business Review — 'The Five Competitive Forces That Shape Strategy' (Michael E. Porter, edisi perluasan 2008 dari artikel asli 1979)
Positioning MapIntermediate

Petakan brand di dua sumbu persepsi pelanggan untuk menemukan celah pasar yang belum digarap pesaing.

Al Ries & Jack Trout, buku "Positioning: The Battle for Your Mind" (McGraw-Hill, 1981) untuk konsep positioning; teknik peta persepsi berasal dari literatur multidimensional scaling pemasaran (mis. Paul E. Green & Frank J. Carmone).
STPIntermediate

Belah pasar, pilih segmen paling menguntungkan, lalu rebut satu posisi khas di benak mereka.

Wendell R. Smith, 'Product Differentiation and Market Segmentation as Alternative Marketing Strategies', Journal of Marketing (1956)
Value Proposition CanvasIntermediate

Cocokkan produk Anda dengan pekerjaan, rasa sakit, dan harapan pelanggan sampai benar-benar klik.

Buku 'Value Proposition Design: How to Create Products and Services Customers Want' (Osterwalder, Pigneur, Bernarda, Smith, 2014) dan Strategyzer

// kategori

Funnel & Journey

7 framework
AARRRAdvanced

Lima metrik funnel yang mengukur perjalanan pengguna dari pertama kenal sampai jadi pelanggan bayar yang mereferensikan.

Dave McClure, 'Startup Metrics for Pirates' (presentasi, 2007)
AIDASBeginner

AIDA yang tidak berhenti di closing: tahap Satisfaction menjaga pelanggan tetap puas supaya balik beli dan merekomendasikan.

Arthur F. Sheldon, 'The Art of Selling' (1911); dirangkum sebagai varian AIDAS di Wikipedia — AIDA (marketing).
Customer Journey MapIntermediate

Petakan setiap titik sentuh pelanggan dari pertama kenal sampai jadi pelanggan setia, supaya kamu tahu persis di mana mereka tertarik dan di mana mereka kabur.

Kim Salazar, 'Journey Mapping 101', Nielsen Norman Group (2016)
FlywheelIntermediate

Jadikan pelanggan yang puas sebagai bahan bakar pertumbuhan, bukan sekadar garis akhir funnel.

HubSpot, 'The Flywheel Model' (2018), plus Jim Collins, 'Good to Great' (2001)
Hook ModelAdvanced

Ubah produk jadi kebiasaan lewat siklus pemicu, aksi, imbalan tak terduga, dan investasi pengguna.

Buku 'Hooked: How to Build Habit-Forming Products' (Nir Eyal bersama Ryan Hoover), Portfolio/Penguin, 2014
See-Think-Do-CareIntermediate

Cocokkan pesan dan penawaran dengan niat audiens: dari yang belum kepikiran (See), sedang menimbang (Think), siap beli (Do), sampai pelanggan yang harus dirawat (Care).

Avinash Kaushik, 'See, Think, Do, Care Winning Combo: Content +Marketing +Measurement!', Occam's Razor
TOFU-MOFU-BOFUBeginner

Cocokkan konten dan iklan dengan tingkat kesiapan beli: kenalkan di atas, yakinkan di tengah, tutup di bawah.

HubSpot — metodologi Inbound Marketing dan panduan funnel (TOFU/MOFU/BOFU)

// kategori

Growth & Digital

7 framework
Digital Marketing FunnelBeginner

Petakan tiap tahap perjalanan pembeli ke kanal digital yang tepat, dari orang yang belum kenal sampai jadi pelanggan yang merekomendasikan.

Semrush — 'Marketing Funnel: What It Is and How It Works' (memuat model lima tahap Awareness, Consideration, Conversion, Loyalty, Advocacy)
Growth Hacking FunnelAdvanced

Metode menjalankan eksperimen cepat dan berulang di sepanjang funnel AARRR untuk menemukan lalu menambal kebocoran yang menghambat pertumbuhan.

Sean Ellis, 'Find a Growth Hacker for Your Startup' (Startup Marketing Blog, 26 Juli 2010); diperluas di buku 'Hacking Growth' oleh Sean Ellis & Morgan Brown (2017)
Growth LoopsAdvanced

Rancang satu putaran di mana hasil hari ini jadi bahan bakar pertumbuhan besok, bukan corong yang habis begitu penjualan terjadi.

Reforge (Brian Balfour, Casey Winters, Kevin Kwok, Andrew Chen), 'Growth Loops are the New Funnels' (2018)
ICE ScoringBeginner

Beri skor tiap ide eksperimen pada Impact, Confidence, dan Ease, lalu kerjakan yang skornya paling tinggi lebih dulu.

Sean Ellis & Morgan Brown, 'Hacking Growth: How Today's Fastest-Growing Companies Drive Breakout Success' (2017); konsep ICE awalnya tersebar lewat komunitas GrowthHackers.com.
North Star MetricIntermediate

Satu angka yang mengukur nilai inti produkmu, dan semua tim mengejarnya bersama.

'The North Star Playbook' oleh Amplitude (John Cutler), dan konsep North Star Metric yang dipopulerkan Sean Ellis lewat buku 'Hacking Growth' (2017)
RACEIntermediate

Petakan seluruh perjalanan pelanggan jadi empat tahap terukur, dari orang belum kenal sampai jadi pelanggan setia yang merekomendasikan.

Smart Insights — 'The RACE Framework: A practical framework to improve your digital marketing' (Dave Chaffey)
RICE ScoringIntermediate

Beri skor tiap ide dengan satu rumus objektif supaya kamu mengerjakan yang dampaknya besar dan usahanya kecil lebih dulu.

Intercom Blog — 'RICE: Simple prioritization for product managers' (Sean McBride)

Pilih framework. Pasang sistemnya.

Kirim konteks bisnis sebelum implementasi.

Buat permintaan