// framework dasar

Know-Like-Trust

Know-Like-Trust menyatakan orang cenderung membeli dari dan mereferensikan bisnis ke pihak yang mereka kenal, sukai, dan percayai. Framework ini menata urutan membangun hubungan: bikin orang kenal dulu, lalu suka, baru cukup percaya untuk beli.

ASALBob Burg, 1994, lewat buku 'Endless Referrals'. Sering dianggap istilah generik marketing tanpa pemilik, padahal rumusannya jelas: 'All things being equal, people will do business with, and refer business to, those people they know, like, and trust.' Belakangan ikut menopang seri 'The Go-Giver' yang ditulis Burg bersama John David Mann.
SUMBERBob Burg — Endless Referrals: Network Your Everyday Contacts into Sales (1994) ↗

Know-Like-Trust menyatakan orang cenderung membeli dari dan mereferensikan bisnis ke pihak yang mereka kenal, sukai, dan percayai. Framework ini menata urutan membangun hubungan: bikin orang kenal dulu, lalu suka, baru cukup percaya untuk beli.

// panduan terkini

Know-Like-Trust pada era AI

Tahap Know sekarang sering ditentukan di luar situsmu: kalau merekmu tidak ikut dikutip di Google AI Overview, ChatGPT, atau Perplexity, kamu tidak masuk radar sejak awal, jadi GEO menjadi bagian dari membangun Know. Karena AI membuat konten generik jadi murah dan seragam, tahap Like dan Trust justru menguat sebagai pembeda: suara khas brand, wajah pemilik yang asli, dan jejak track record adalah hal yang sulit di-generate. Otomasi iklan seperti Advantage+ dan Performance Max mengurus siapa yang dijangkau, tapi apakah audiens berhenti dan percaya tetap ditentukan bukti nyata seperti review Google, testimoni bervideo, dan sosok manusia di balik bisnis. Di tengah maraknya deepfake dan akun palsu, sinyal trust yang otentik, misalnya sertifikasi BPOM untuk klinik kecantikan atau legalitas jelas untuk jasa B2B, malah makin mahal nilainya.

// paid channel

Penerapan per channel

Meta Ads

Bangun Know lewat reels/UGC berjangkauan luas pakai Advantage+ Audience (broad + sinyal), lalu Like lewat konten native berwajah pemilik atau tim yang di-retarget ke orang yang sudah menonton atau engage. Tutup Trust dengan iklan testimoni dan katalog/DPA ke audiens hangat, dan wajib pasang Conversions API (CAPI) agar event Lead/Purchase terkirim server-side supaya sistem belajar mencari orang yang bukan cuma kenal, tapi memang beli.

Google Ads

Search paling kuat menangkap orang di tahap Trust yang sudah siap beli, misalnya keyword branded atau intent tinggi seperti 'jasa akuntansi pajak UMKM terpercaya jakarta', sementara Know dan Like yang lebih awal dipupuk lewat Demand Gen di YouTube. Aktifkan Enhanced Conversions untuk sinyal akurat, dan pakai sitelink serta rating extension berisi review supaya hasil pencarianmu sendiri sudah memancarkan kepercayaan sebelum orang mengklik.

TikTok Ads

Serangkaian konten native/UGC dengan wajah host yang sama, misalnya owner F&B yang rutin muncul, membangun Know lalu Like karena audiens jadi hafal orangnya; boost video yang sudah terbukti perform pakai Spark Ads. Trust tumbuh dari komentar, duet, dan stitch asli plus testimoni pelanggan, dan pasang TikTok Pixel/Events API agar konversi dari audiens yang sudah akrab ikut terlacak.

LinkedIn Ads

Untuk B2B high-ticket seperti SaaS lokal atau konsultan, bangun Know dan Like lewat Document Ads dan konten thought-leadership dari akun founder yang ditarget per jabatan, industri, dan company size. Bangun Trust dengan studi kasus dan angka hasil klien, lalu tutup pakai Lead Gen Forms; karena biaya per lead LinkedIn lebih mahal, kualifikasi audiens harus ketat sejak awal.

// owned media

Penerapan pada media

Landing page

Susun halaman mengikuti urutannya: hero menjelaskan siapa kamu dan untuk siapa (Know), blok proof seperti foto tim, testimoni, logo klien, dan sertifikasi legal/BPOM membangun Like dan Trust, lalu satu CTA konversi dominan. Jaga kecepatan load dan pasang event tracking di tombol utama agar kepercayaan yang sudah dibangun tidak bocor di detik terakhir.

Email

Pakai sequence otomatis yang membangun hubungan bertahap: email awal untuk perkenalan dan edukasi (Know dan Like) sebelum email penawaran dijatuhkan setelah trust terbentuk. Segmentasi dan personalisasi, misalnya menyebut nama dan konteks bisnis penerima, membuat pesan terasa dari orang yang mereka kenal, bukan blast anonim.

WhatsApp

Kirim hanya ke kontak yang sudah opt-in sesuai WhatsApp Business Policy, dan buat broadcast awal fokus memberi nilai atau edukasi (Know dan Like), bukan langsung jualan. Gunakan template message yang sudah disetujui plus label/segmen agar relevan; sekali dianggap spam, Trust yang susah dibangun langsung hilang.

Terapkan framework ini pada sistem nyata.

Kirim konteks, target, dan kendala Anda. Tim Rama Digital meninjau permintaan sebelum memberi penawaran.

Buat permintaan