Jawaban langsung: Presenteeism adalah kondisi saat karyawan tetap masuk kerja walau sakit, sehingga kinerjanya turun. Absenteeism adalah kebalikannya: karyawan tidak masuk kerja karena sakit. Absensi mencatat absen, tetapi absensi tidak mencatat presenteeism. Anda dapat mengukurnya dengan 3 pertanyaan skala 0 sampai 10 dari kuesioner HPQ. Lalu Anda mengubah aturan yang mendorong orang tetap masuk saat sakit.
Kondisi utama: Cara ini berlaku untuk tim kecil, misalnya 5 sampai 50 orang. Tim itu perlu data jam kerja dan 1 orang netral untuk memegang data jawaban. Batas: Artikel ini bukan nasihat medis atau nasihat hukum. Skor HPQ berasal dari laporan diri, jadi skor itu tidak membuktikan diagnosis atau kesalahan seseorang.
Kami membuka 17 sumber pada 26 Oktober 2026. Sumber utama adalah Johns (2010), Hemp (2004), memo skor HPQ dari Harvard, kajian IZA dan Enterprise Research Centre, serta 2 studi Indonesia. Teks penuh Johns (2010) dan Hemp (2004) tidak dapat kami buka, jadi kami hanya mengutip abstrak dan rangkuman pihak lain. Angka tim di bagian simulasi adalah data dummy, bukan data klien.
Masalahnya: karyawan hadir, tetapi pekerjaan tidak jalan
Bayangkan admin toko online yang datang dengan sakit kepala. Admin itu membalas chat pelanggan lebih lambat dari biasanya. 1 pesanan masuk dengan alamat yang salah. Absensi hari itu tetap mencatat "hadir".
Hemp (2004) membuka artikelnya di Harvard Business Review dengan contoh yang mirip. Seorang insinyur desain di International Truck and Engine bekerja dengan alergi musiman. Insinyur itu jarang absen, tetapi sulit fokus pada layar sepanjang hari.
Pemilik bisnis kecil biasanya hanya menghitung hari absen. Hari absen mudah Anda lihat. Hari "hadir tetapi tidak berfungsi" tidak muncul di laporan mana pun.
Polanya umum. Schnabel (2022) mengutip survei EWCS 2015: 42% pekerja Uni Eropa bekerja saat sakit minimal 1 kali dalam 12 bulan, dan 46% pernah absen karena alasan kesehatan. Di Indonesia, Sidharta dkk. (2025) menanyai 590 pekerja sektor formal pada Februari sampai Juli 2023. 26,1% (154 orang) melapor masalah kesehatan yang mengganggu kerja dalam 1 bulan terakhir.
Kinerja juga dapat turun karena sebab lain, misalnya masa adaptasi alat baru. Artikel tentang kurva J transformasi digital membahas penurunan jenis itu. Presenteeism berbeda, karena sebabnya adalah kondisi kesehatan.
Cara kerjanya: kenapa orang tetap masuk saat sakit
Presenteeism bukan hanya soal karyawan yang rajin. Riset menemukan pemicu pada 3 tingkat: orang, tugas, dan aturan perusahaan.
1. Dua definisi untuk 1 masalah
Johns (2010) mendefinisikan presenteeism sebagai hadir di tempat kerja saat sakit. Ulasannya di Journal of Organizational Behavior membahas asal istilah, definisi, cara ukur, dan faktor organisasi yang berkaitan.
Hemp (2004) memakai definisi dari sisi akibat. Karyawan ada di tempat kerja, tetapi tidak berfungsi penuh karena sakit atau kondisi medis.
Hassard dan Dulal-Arthur (2026) menulis bahwa definisi pertama banyak dipakai di Eropa, dan definisi kedua di Amerika Utara. Menurut rangkuman mereka, Johns mengkritik definisi kedua karena mencampur sebab dan akibat. Jadi artikel ini memisahkan 2 hal: "hadir saat sakit" untuk perilaku, dan "kinerja turun" untuk akibat.
2. Pemicu dari tugas dan aturan
Aronsson dkk. (2000) mewawancarai 3.801 pekerja Swedia lewat telepon pada 1997. 1 dari 3 orang bekerja 2 kali atau lebih dalam 1 tahun, walau merasa harus cuti sakit. Pekerja yang harus mengerjakan sendiri tumpukan tugas sesudah absen punya odds ratio presenteeism 2,29.
Miraglia dan Johns (2016) menggabungkan 109 sampel dengan 175.965 peserta. Pemicu utamanya adalah kesehatan yang buruk, hambatan untuk absen seperti aturan absen ketat dan rasa tidak aman kerja, tuntutan kerja, stres, dan dukungan yang rendah. Sikap positif juga berkaitan: puas, terlibat, dan berkomitmen pada pekerjaan.
Schnabel (2022) merangkum alasan yang pekerja sebut sendiri: beban kerja dan tenggat, rasa profesional, dan rasa bersalah pada rekan. Kajian itu juga mencatat bahwa ukuran perusahaan tidak membuat perbedaan, tetapi aturan absen yang ketat berkaitan dengan presenteeism yang lebih tinggi.
Sidharta dkk. (2025) menulis 2 pola budaya kerja di Indonesia. Pekerja menjaga hubungan baik dengan atasan dan rekan, dan pekerja menghindari tugas yang tertinggal tanpa pengganti. Beberapa perusahaan juga memberi uang insentif bila karyawan tidak cuti sama sekali.
Jadi banyak pemicu ada di tangan pemilik bisnis: tugas yang menumpuk, tidak ada pengganti, dan aturan yang menghukum absen.

3. Berapa biayanya
Hemp (2004) mengutip perkiraan lebih dari 150 miliar dolar AS per tahun bagi perusahaan Amerika Serikat. Ringkasan artikelnya menyebut angka itu jauh di atas biaya absen.
Stewart dkk. (2003) mensurvei 28.902 pekerja AS. Untuk nyeri umum, 76,6% waktu produktif yang hilang terjadi saat orang tetap bekerja, bukan saat absen. Pada studi depresi mereka, 81% biaya waktu yang hilang berasal dari kinerja yang turun saat bekerja.
Collins dkk. (2005) mengukur karyawan Dow Chemical dengan Stanford Presenteeism Scale. Kemampuan kerja turun 17,8% sampai 36,4%, tergantung kondisi. Total biaya penyakit kronis setara 10,7% dari biaya tenaga kerja, dan 6,8% berasal dari penurunan kinerja saat bekerja saja.
Goetzel dkk. (2004) menghitung 10 kondisi kesehatan. Biaya presenteeism mencapai 18% sampai 60% dari semua biaya kondisi itu. Pada banyak kondisi, biaya presenteeism lebih besar dari biaya pengobatan.
Untuk Indonesia, Rasmussen, Sweeny, dan Sheehan (2016) memodelkan kerugian PDB tahun 2015 dari penyakit tidak menular pada angkatan kerja. Hasilnya 3,18% PDB dari presenteeism dan 1,37% PDB dari absen.

4. Batas bukti
Schnabel (2022) menulis bahwa belum pasti presenteeism lebih mahal dari absen. Banyak studi memakai laporan diri dan data dari 1 titik waktu, jadi sebab dan akibat belum terbukti.
Model Indonesia memakai asumsi penurunan produktivitas per penyakit dari Goetzel dkk. (2004), yaitu data perusahaan AS. Jadi angka 3,18% adalah hasil model, bukan hasil survei di Indonesia. Tabel ringkasan laporan itu juga menukar 2 label kolom, jadi kami memakai Tabel 2 yang memisahkan absen dan presenteeism.
5. Tidak semua presenteeism merugikan
Hassard dan Dulal-Arthur (2026) membedakan 2 jalur. Jalur pertama muncul karena orang menghindari absen, dan jalur ini sering merugikan. Jalur kedua muncul karena kerja membantu rutinitas, identitas, dan pemulihan.
Schnabel (2022) menulis bahwa kerja saat sakit dapat membantu pemulihan, bila jenis sakit dan tugasnya memungkinkan. Tetapi Skagen dan Collins (2016) meninjau 12 studi jangka panjang. Sebagian besar studi itu menemukan bahwa presenteeism hari ini menaikkan risiko absen sakit dan menurunkan rasa sehat di kemudian hari.
Rekomendasi Rama Digital: jangan menargetkan presenteeism 0. Targetkan keputusan yang tepat: istirahat saat sakit menular atau berat, dan kerja ringan saat kondisi memungkinkan.
Perbandingan: absenteeism, presenteeism, dan presenteeism virtual
Empat istilah ini sering tercampur dalam rapat tim. Tabel ini memisahkan arti, cara ukur, dan sumbernya.
| Istilah | Arti | Terlihat di absensi? | Cara ukur | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| Absenteeism (absen karena sakit) | Karyawan tidak masuk kerja karena sakit. | Ya | Jam yang hilang: 4 x B4 dikurangi B6 pada HPQ. | Kessler dkk. (2003) |
| Presenteeism sebagai perilaku | Karyawan masuk kerja walau sakit. | Tidak | Pertanyaan: berapa kali Anda bekerja saat sakit dalam 12 bulan? | Johns (2010), Aronsson dkk. (2000) |
| Presenteeism sebagai akibat | Karyawan hadir, tetapi kinerjanya turun karena kondisi kesehatan. | Tidak | Skala kinerja 0 sampai 10 (HPQ B11). | Hemp (2004), Kessler dkk. (2003) |
| Presenteeism virtual | Karyawan tetap bekerja dari rumah saat sakit. | Tidak | Sama dengan 2 baris di atas. | Schnabel (2022) |
Hanya baris pertama yang muncul di absensi. Tiga baris lain butuh pertanyaan langsung ke karyawan.
Sebelum mulai: siapkan 5 hal
- Jam kerja yang Anda harapkan per orang per minggu.
- 1 formulir online tanpa kolom nama, atau dengan kode per orang.
- 1 orang netral yang memegang daftar kode, misalnya admin keuangan.
- Daftar tugas harian per orang.
- Aturan cuti sakit dan bonus kehadiran yang berlaku sekarang.
UU 27/2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data dan informasi kesehatan sebagai data pribadi yang bersifat spesifik. Jadi jangan tanya diagnosis. Tanya jam kerja dan kinerja saja.
Langkah 1: Kirim 7 pertanyaan HPQ setiap 4 minggu
HPQ (Health and Work Performance Questionnaire) adalah kuesioner laporan diri dari Kessler dkk. (2003). Kalibrasi awalnya membandingkan jawaban HPQ dengan data arsip perusahaan pada 4 kelompok: 441 agen reservasi maskapai, 505 petugas layanan pelanggan, 554 eksekutif otomotif, dan 850 masinis kereta.
Memo skor HPQ (1 Mei 2007, diperbarui 8 Januari 2024) memuat 7 pertanyaan inti untuk absen dan presenteeism. Pembaruan 2024 menghapus kepemilikan WHO dari HPQ. Per 26 Oktober 2026, halaman HPQ belum memuat versi resmi bahasa Indonesia, jadi tabel ini memakai terjemahan bebas kami.
| Kode | Pertanyaan (terjemahan bebas) | Masuk rumus? |
|---|---|---|
| B3 | Berapa jam Anda bekerja dalam 7 hari terakhir? | Ya, untuk versi 7 hari. |
| B4 | Berapa jam kerja yang perusahaan harapkan dalam 1 minggu biasa? | Ya. |
| B5 | Dalam 28 hari terakhir, berapa hari Anda absen penuh, absen sebagian, atau lembur? | Tidak. Pertanyaan ini membantu Anda mengingat sebelum B6. |
| B6 | Berapa jam Anda bekerja dalam 28 hari terakhir? | Ya. |
| B9 | Pada skala 0 sampai 10, berapa kinerja biasa pekerja lain di posisi yang serupa? | Ya. |
| B10 | Pada skala yang sama, berapa kinerja Anda biasanya dalam 1 sampai 2 tahun terakhir? | Tidak. Pertanyaan ini membantu Anda fokus ke 4 minggu terakhir. |
| B11 | Pada skala yang sama, berapa kinerja Anda pada hari kerja dalam 28 hari terakhir? | Ya. Ini angka utama. |
Kirim formulir pada tanggal yang sama setiap 4 minggu. Memo HPQ meminta pengguna menyebut 2 makalah metodologinya bila hasil survei diterbitkan. Cek: minimal 80% anggota tim menjawab, dan formulir tidak punya kolom diagnosis.
Langkah 2: Hitung skor absen dan skor presenteeism
Pakai 3 rumus dari memo HPQ. Presenteeism absolut sama dengan 10 x B11, dengan rentang 0 sampai 100. Presenteeism relatif sama dengan B11 dibagi B9, dibatasi 0,25 sampai 2,0. Absen relatif sama dengan (4 x B4 dikurangi B6) dibagi (4 x B4).

Memo HPQ menyebut cara ini cara hitung sederhana. Versi HPQ penuh memakai kalibrasi ke data arsip, jadi cara sederhana hanya cocok untuk melihat tren di tim yang sama. Cek: setiap skor absolut ada di antara 0 dan 100, dan setiap skor relatif ada di antara 0,25 dan 2,0.
Langkah 3: Cari pemicu dengan 4 pertanyaan tim
Skor menunjukkan di mana kinerja turun, tetapi skor tidak menunjukkan sebabnya. Bahas 4 pertanyaan ini dalam rapat tim 30 menit, tanpa menyebut skor perorangan:
- Apakah pekerjaan Anda menumpuk saat Anda absen?
- Siapa yang dapat mengganti tugas Anda hari ini?
- Apakah absen 1 hari memotong bonus, penilaian, atau upah Anda?
- Apakah Anda merasa tidak enak pada atasan atau rekan saat izin sakit?
Pertanyaan 1 dan 2 berasal dari temuan Aronsson dkk. (2000). Pertanyaan 3 berasal dari temuan Miraglia dan Johns (2016) tentang aturan absen. Pertanyaan 4 berasal dari pengamatan Sidharta dkk. (2025) tentang budaya kerja di Indonesia. Cek: Anda punya daftar 3 pemicu teratas, dan setiap pemicu punya 1 contoh tugas nyata.
Langkah 4: Ubah aturan, insentif, dan pengganti tugas
Ubah pemicu yang Anda temukan di langkah 3. Mulai dari 3 perubahan ini:
- Hapus bonus "tidak pernah absen", lalu ganti dengan bonus target tim. Menurut Schnabel (2022), bonus seperti itu menaikkan kehadiran dalam jangka pendek, tetapi dapat menaikkan absen dan sakit panjang di kemudian hari.
- Tunjuk 1 pengganti untuk setiap tugas yang tidak boleh berhenti, misalnya membalas chat pelanggan atau input pesanan.
- Tulis kapan karyawan wajib istirahat, misalnya saat sakit dapat menular. Tulis juga kapan kerja ringan atau kerja dari rumah boleh.
Aturan ini tetap mengikuti hukum. PP 36/2021 Pasal 40 dan 41 mewajibkan pengusaha membayar upah saat pekerja sakit sehingga tidak dapat bekerja: 100% untuk 4 bulan pertama, lalu 75%, 50%, dan 25% untuk periode berikutnya. Jadi upah hari sakit sudah menjadi biaya wajib. Aturan baru hanya memindahkan hari itu dari "hadir tetapi lemah" ke "istirahat dan pulih".
Bila pemicunya adalah tugas manual yang menumpuk, baca artikel AI tools untuk operasional dan biaya per tugas. Artikel itu menunjukkan cara menghitung biaya otomasi. Cek: aturan baru tertulis, sudah Anda bagikan ke tim, dan setiap tugas penting punya nama pengganti.
Langkah 5: Ukur ulang setelah 4 minggu dan tetapkan batas eskalasi
Kirim 7 pertanyaan yang sama 4 minggu sesudah aturan baru berlaku. Bandingkan median skor tim, bukan skor perorangan. Biaya absen dapat naik sedikit, karena orang yang sakit kini memilih istirahat.
Tulis batas eskalasi sebelum hasil keluar. Rekomendasi Rama Digital: pakai batas ini. Bila B11 1 orang turun 3 poin atau lebih dari B10 selama 2 periode, atasan mengajak orang itu bicara secara pribadi. Atasan juga menyarankan pemeriksaan ke dokter. Prinsipnya sama dengan batas berhenti pada artikel sunk cost fallacy. Anda menulis batas sebelum melihat hasil. Cek: batas eskalasi tertulis sebelum periode kedua mulai, dan tidak ada skor yang masuk penilaian kinerja.
Contoh simulasi: tim CS dan admin toko online
Contoh ini memakai data dummy. Sebuah toko online punya 6 karyawan CS dan admin dengan upah rata-rata Rp 4.500.000 per bulan. Jam kerja yang diharapkan 40 jam per minggu, jadi 160 jam per 4 minggu.
Untuk mengubah skor menjadi rupiah, kami memakai 2 perkiraan kasar. Biaya absen sama dengan upah x absen relatif. Biaya kerja saat sakit sama dengan upah x jam kerja relatif x (B10 dikurangi B11) / 10. HPQ resmi tidak memakai B10 dalam rumus, jadi angka rupiah ini hanya untuk diskusi tim.
| Kode | Jam kerja 4 minggu (B6) | Absen relatif | B10 ke B11 | Presenteeism absolut | Biaya absen | Biaya kerja saat sakit (kasar) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| A | 160 | 0 | 8 ke 8 | 80 | Rp 0 | Rp 0 |
| B | 152 | 0,05 | 8 ke 5 | 50 | Rp 225.000 | Rp 1.282.500 |
| C | 136 | 0,15 | 7 ke 7 | 70 | Rp 675.000 | Rp 0 |
| D | 168 | -0,05 | 8 ke 6 | 60 | Rp 0 | Rp 945.000 |
| E | 160 | 0 | 9 ke 9 | 90 | Rp 0 | Rp 0 |
| F | 144 | 0,10 | 8 ke 4 | 40 | Rp 450.000 | Rp 1.620.000 |
Total biaya absen Rp 1.350.000. Total perkiraan biaya kerja saat sakit Rp 3.847.500, hampir 3 kali lipat. Laporan absensi biasa hanya menunjukkan angka pertama.
| Tanggal (simulasi) | Kejadian | Yang tercatat | Keputusan |
|---|---|---|---|
| 1 Sep | Pemilik mengirim 7 pertanyaan HPQ lewat formulir. Admin keuangan memegang daftar kode A sampai F. | 6 dari 6 orang menjawab dalam 3 hari. | Pemilik hanya melihat kode, bukan nama. |
| 4 Sep | Admin menghitung skor. | Biaya absen Rp 1.350.000. Biaya kerja saat sakit (kasar) Rp 3.847.500. | Fokus ke tugas yang dipegang B, D, dan F. |
| 5 Sep | Rapat tim 30 menit dengan 4 pertanyaan pemicu. | B, D, dan F memegang chat pelanggan dan input pesanan tanpa pengganti. Bonus kehadiran Rp 300.000 hilang bila absen 1 hari. | Ubah aturan mulai 8 Sep. |
| 8 Sep | Aturan baru berlaku. | Bonus kehadiran diganti bonus target tim. 2 tugas punya pengganti. Izin sakit boleh lewat pesan. | Ukur ulang pada 6 Okt. |
| 6 Okt | Ukur ulang dengan 7 pertanyaan yang sama. | Biaya absen Rp 1.575.000. Biaya kerja saat sakit (kasar) Rp 1.395.000. | Total turun dari Rp 5.197.500 ke Rp 2.970.000. Ukur lagi tiap 4 minggu. |
Pada simulasi ini, biaya absen naik dari Rp 1.350.000 ke Rp 1.575.000. Total biaya turun dari Rp 5.197.500 ke Rp 2.970.000. Angka ini contoh, dan hasil tim Anda dapat berbeda.
Checklist sebelum Anda mengubah aturan sakit
- Tulis aturan sakit dan aturan bonus yang berlaku sekarang. Pemilik: pemilik bisnis. Bukti: dokumen bertanggal.
- Kirim 7 pertanyaan HPQ tanpa kolom diagnosis. Pemilik: admin atau HR. Bukti: formulir dan tanggal kirim.
- Hitung presenteeism absolut, presenteeism relatif, dan absen relatif. Pemilik: orang netral pemegang kode. Bukti: lembar hitung.
- Bahas 4 pertanyaan pemicu tanpa skor perorangan. Pemilik: manajer tim. Bukti: catatan rapat dengan 3 pemicu teratas.
- Tunjuk 1 pengganti untuk setiap tugas penting. Pemilik: manajer tim. Bukti: daftar tugas dengan 2 nama per tugas.
- Simpan data jawaban terpisah dengan akses terbatas. Pemilik: pemilik bisnis. Bukti: daftar orang yang punya akses.
- Hentikan program dan minta bantuan profesional bila jawaban di bawah 80% tim atau median skor tidak naik selama 2 periode. Pemilik: pemilik bisnis. Bukti: catatan tanggal keputusan.
Kapan menangani sendiri, kapan minta bantuan
Tangani sendiri bila tim Anda kecil, data jam kerja tersedia, dan ada 1 orang netral yang dapat memegang data. 5 langkah di atas memadai untuk kasus itu.
Minta bantuan dokter, dokter perusahaan, atau psikolog bila 1 orang menunjukkan gejala berat atau gejala depresi. Minta bantuan proses bila pemicu utamanya adalah tugas manual yang menumpuk tanpa pengganti.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti presenteeism dalam bahasa Indonesia? Presenteeism berarti karyawan tetap masuk kerja walau sakit, sehingga kinerjanya turun. Belum ada istilah baku dalam bahasa Indonesia. Banyak tulisan memakai kata presenteeism atau "hadir saat sakit".
Apa bedanya presenteeism dan absenteeism? Absenteeism adalah tidak masuk kerja karena sakit, dan absensi mencatatnya. Presenteeism adalah tetap masuk kerja saat sakit. Absensi mencatat orang itu hadir, jadi kerugiannya tidak terlihat.
Apakah presenteeism selalu merugikan? Tidak selalu. Kerja ringan dapat membantu pemulihan bila sakitnya tidak menular dan tugasnya memungkinkan. Tetapi 12 studi jangka panjang menunjukkan presenteeism sering menaikkan risiko absen sakit di kemudian hari.
Bagaimana cara mengukur presenteeism di tim kecil? Pakai pertanyaan B9, B10, dan B11 dari HPQ dengan skala 0 sampai 10. Presenteeism absolut sama dengan 10 x B11. Ukur setiap 4 minggu, lalu bandingkan median tim.
Apakah bonus kehadiran memicu presenteeism? Bisa. Meta-analisis Miraglia dan Johns (2016) menemukan aturan absen yang ketat berkaitan dengan presenteeism yang lebih tinggi. Schnabel (2022) menulis bahwa bonus tanpa absen dapat menaikkan absen dan sakit panjang di kemudian hari.
Apakah kerja dari rumah menghapus presenteeism? Tidak. Schnabel (2022) menyebut presenteeism virtual: karyawan tetap bekerja saat sakit karena merasa tidak terlihat. Ukur karyawan jarak jauh dengan 7 pertanyaan yang sama.
Langkah berikutnya
Batas tetap berlaku: skor HPQ adalah laporan diri, dan artikel ini bukan nasihat medis atau nasihat hukum. Bila pemicu utama di tim Anda adalah pekerjaan manual yang menumpuk, pakai AI Workflow Audit. Layanan ini memetakan alur kerja dan beban kerja manual selama 1 sampai 2 minggu, lalu memberi daftar prioritas tertulis. Jadwalkan sesi 30 menit bila Anda ingin membahas hasil skor tim bersama kami.
Sumber
- Johns (2010). "Presenteeism in the workplace: A review and research agenda", Journal of Organizational Behavior 31(4), hlm. 519 sampai 542. Definisi hadir saat sakit. Kami membaca abstraknya.
- Hemp (2004). "Presenteeism: At Work, But Out of It", Harvard Business Review, Oktober 2004. Definisi dari sisi akibat, perkiraan 150 miliar dolar, dan contoh insinyur. Kami membaca abstrak dan pembukaannya.
- Kessler dkk. (2003). Journal of Occupational and Environmental Medicine 45(2), hlm. 156 sampai 174. Kalibrasi HPQ pada 4 kelompok kerja.
- Memo skor HPQ, Kessler, Petukhova, McInnes, dan Üstün, 1 Mei 2007, diperbarui 8 Januari 2024. Pertanyaan B3 sampai B11 dan rumus skor.
- Goetzel dkk. (2004). Journal of Occupational and Environmental Medicine 46(4), hlm. 398 sampai 412. 10 kondisi, presenteeism 18% sampai 60% dari biaya.
- Collins dkk. (2005). Journal of Occupational and Environmental Medicine 47(6), hlm. 547 sampai 557. Dow Chemical, 10,7% dan 6,8% dari biaya tenaga kerja.
- Stewart dkk. (2003). JAMA 290(18), hlm. 2443 sampai 2454. 28.902 pekerja, 76,6% waktu hilang saat bekerja. Studi depresi: JAMA 289(23), hlm. 3135 sampai 3144, 81% biaya.
- Aronsson dkk. (2000). Journal of Epidemiology and Community Health 54(7), hlm. 502 sampai 509. 3.801 pekerja Swedia, odds ratio 2,29.
- Miraglia dan Johns (2016). Journal of Occupational Health Psychology 21(3), hlm. 261 sampai 283. Meta-analisis 109 sampel, 175.965 peserta.
- Skagen dan Collins (2016). Social Science and Medicine 161, hlm. 169 sampai 177. Tinjauan 12 studi jangka panjang.
- Schnabel (2022). "Presenteeism at the workplace", IZA World of Labor 495, Mei 2022. EWCS 2015, alasan pekerja, aturan absen, dan presenteeism virtual.
- Hassard dan Dulal-Arthur (2026). "What do we know about workplace presenteeism?", Enterprise Research Centre, SOTA Review 68, Maret 2026. 2 definisi dan 2 jalur presenteeism.
- Sidharta dkk. (2025). Journal of UOEH 47(2), hlm. 45 sampai 54. 590 pekerja formal Indonesia, 26,1%.
- Rasmussen, Sweeny, dan Sheehan (2016). Laporan untuk US Chamber of Commerce, Victoria University, September 2016. Tabel 2: Indonesia 3,18% dan 1,37% PDB.
- PP 36/2021 tentang Pengupahan, Pasal 40 dan 41. Perubahan lewat PP 51/2023 dan PP 49/2025 tidak mengubah kedua pasal ini.
- UU 27/2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, Pasal 4. Data kesehatan termasuk data pribadi yang bersifat spesifik.
Semua sumber dibuka pada 26 Oktober 2026.




